Media Sosial X Izinkan Konten Pornografi, Apa Tanggapan Kominfo?

Trending 1 week ago

TEMPO.CO, Jakarta - Media sosial Twitter alias nan sekarang berjulukan X memperbarui panduannya nan memungkin penggunanya untuk bisa terang-terangan membagikan konten pornografi yang diproduksi dan didistribusikan secara konsensual (dengan persetujuan). Syaratnya, setiap konten dewasa itu dilabeli dan tidak dalam letak terbuka, seperti gambar profil alias banner.

Merespons kebijakan itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo, Usman Kansong, menyebut pihaknya dapat mengambil sejumlah tindakan, salah satunya adalah penutupan akses X. Hal ini lantaran pornografi dilarang berasas KUHP, UU Antipornografi, dan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik alias UU ITE.

"Kominfo sudah punya sistem mencegah pornografi di ranah digital. Misalnya dengan filter kata-kata kunci mengenai pornografi. Bila X melanggar patokan mengenai pornografi, sesuai PP 71/2019, Kominfo bisa mengambil tindakan dari teguran, take down konten sampai penutupan akses," kata Usman pada Selasa, 4 Juni 2024. "Kita sudah punya sistem mencegah pornografi di ranah digital, misalnya dengan filter kata-kata kunci mengenai pornografI," jelasnya.

Kebijakan terbaru X ini menggantikan kebijakan Sensitive Media and Violent Speech nan pernah diadopsi Twitter. Meski begitu X menyatakan, "Apa nan kami perkuat tidaklah berubah."

Secara default, para pengguna nan belum berumur 18 tahun alias tidak memberikan info tanggal lahir tidak bakal dapat terapar konten-konten itu. Aturan baru juga melarang konten nan mendorong eksploitasi, nonkonsensual, obyektifikasi, seksualisasi, alias membahayakan golongan minor, dan perilaku nan kasar alias tak pantas.

Alasan X tegaskan tak larang konten dewasa

Iklan

Dikutip dari The Verge, gelagat untuk patokan baru nan dikeluarkan akhir pekan kemarin ini sudah ada sejak Maret lalu. Saat itu X mengatakan bakal mulai mengizinkan organisasi NSFW mengaplikasikan sebuah label Adult Content untuk mencegahnya tersaring secara otomatis oleh otoritas di platform itu.

Alasan X adalah untuk memungkinkan pengguna berperan-serta dalam percakapan tentang apa nan sedang terjadi di sekitarnya, tak terkecuali dengan gambar-gambar dan video. Sekitar 13 persen unggahan di platform itu pada 2022 lampau terdata sebagai konten dewasa. Bahkan jumlahnya diduga lebih meningkat lagi sejak itu, terutama sejak akun bot porno menjamur.

Platform media sosial lain telah melakukan nan sama dengan memelihara organisasi NSFW. Tumblr, misalnya, pernah keras melarang konten dewasa pada 2018, namun berubah kembali beberapa tahun kemudian. Larangan sempat dikeluarkan setelah aplikasi ini dihapus dari App Store lantaran unggahan bermuatan material pelanggaran seksual anak. Tapi setelahnya, traffic pengguna Tumblr dilaporkan menukik.

Sementara perusahaan pembayaran seperti Mastercard dan Visa memutus jasa di Pornhub dan mulai memaksakan larangan nan sama di platform lain, sehingga menyebabkan Patreon, eBay, dan apalagi OnlyFans memberlakukan patokan lebih ketat tentang konten dewasa nan bisa diunggah.

Pilihan Editor: Mahasiswa Unej Ciptakan FreeMe, Aplikasi Pencegah Kecanduan Pornografi

More
Source